Failure
| sumber: pinterest |
Adanya kegagalan sering membuatku bertanya-tanya apa fungsinya dan kenapa aku harus sering mengalami kegagalan di hal yang emang aku inginkan. Pasti ada momen, "duh ini pengen banget, kenapa harus nggak dapet arrghhhh WKWKWK," ketawanya jangan ketinggalan. Lalu, akhir-akhir ini aku mikir, kayaknya aku tau deh kenapa aku dibuat beberapa kali mengalami kegagalan.
Kegagalan nggak cuma ngajarin buat tau seberapa gigih diri bertahan, tapi seberapa cepat aku move on dari kegagalan yang ada.
Kalau boleh diakui, aku dulu termasuk orang yang berlarut-larut dalam kesedihan. Sepertinya karena nggak dibiasakan gagal sejak dini. Kebetulan waktu itu menang terus, HAHAHAH SOMBONGNYAA. Bukan gitu, tapi jarang banget ikut kompetisi yang lawannya lebih luas. Ibarat ikan yang gede di kolam yang kecil, tapi kalau disuruh berenang di kolam gede dia cuma ikan kecil. Eh gimana sih istilahnya, gitulah pokoknya.
Singkat cerita, semakin bertambah usia, ada aja hal yang nggak terjadi sesuai keinginan. Kepercayaan diri runtuh, merasa jadi manusia gagal, sedih yang berlarut-larut, merasa diriku ini ampas banget, dan gongnya takut pdkt sama orang karena merasa diriku tidak worth it, bahkan masih ada sisa perasaan itu sampe sekarang. Itu efek samping dari kegagalan ya.
Apakah ada positifnya? Pikirku waktu itu nggak ada. Ternyata ada. Seringnya gagal, bikin aku lebih cepet move on HAHAHA. Hidup isinya mung yowes gakpapa, nrima ing pandum banget kan. Katanya Bondan Prakoso juga, "ketika mimpimu yang begitu indah, tak pernah terwujud, ya sudahlah." Apa dia orang Solo/Jogja sekitarnya ya? Curiga.
Kebanyakan gagal, standarku juga jadi turun. Misal, nilai ujian nggak harus 90-100, ngepas KKM saja sudah alhamdulillah. Cari kerjaan yang penting kemampuan, lingkungan, dan gaji cocok, sudah oke. Pasangan hidup nggak harus kayak Lee Seung-gi, penting udah sesuai dengan standar minimal yang kita bikin, OKE.
Move on ini juga sepaket sama mundur, tapi yang ini nggak perlu bayar 2000. Tapi kalo dipikir-pikir, hidup kayaknya emang mirip kita parkir. Numpang dulu, kalo udah cukup, kita pergi. Wih, kelas sekali analogi tukang parkir satu ini.
Dalam hidup ini memang menerima, menyesuaikan, dan melepaskan itu perlu banget ya. Waduh, serasa bijak banget, padahal kenyataannya masih banyak bingungnya dan "ah kenapa sih"-nya juga. Intinya tiga rukun hidup tidak ribet di dunia (HAHAHA udah kayak fikih), yaitu menerima, menyesuaikan, dan melepaskan yang bukan milik kita. Masak sih, mbak Anggra? WKWKWKWK IYA DONG~
[Tulisan ter-stres yang aku bikin lagi, emang suka ngaco begini kalo nulis. Aslinya juga begini]
