Bacaan Ketiga: Tube
Tube adalah salah satu novel dari Korea Selatan yang bergenre fiksi psikologi karya Sohn Won-Pyung. Ini pertama kalinya aku baca novel korea yang diterjemahkan dan terjemahannya mudah dipahami. Biasanya novel terjemahan bakal terkesan kaku, tapi ini nyaman banget dibaca. Bahasa yang digunakan juga mudah dipahami banget. Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku belum bisa baca novel-novel sastra yang sulit.
Novelnya cuma setebal 213 halaman, itupun udah sekalian sama pesan dari penulis. Bagi yang punya kecepatan baca per menitnya tinggi, novel ini bisa diselesaikan dalam 2 atau 3 hari. Kalau aku butuh waktu seminggu karena harus disambi sama aktivitas lain, hehe. Macam orang sibuk aja.
Bagi yang suka baca novel dengan alur cerita kebangkitan dari kegagalan, bukunya Sohn ini bakal cocok buat dibaca. Tapi ini bukan kebangkitan dalam artian hidup senang, tenang, dan banyak uang ya. Dia bangkit secara emosional dengan kondisi ekonomi yang bisa dibilang masih luntang-lantung. Jadi ini bukan cerita orang miskin, tiba-tiba kaya raya dalam beberapa halaman. Jadi bagi orang-orang yang belum banyak uang, gak bakal merasa gagal banget setelah baca endingnya karena endingnya bukan yang tiba-tiba tajir melintir.
Pemeran utamanya adalah Kim Sang Gon, laki-laki paruh baya yang awalnya salah ambil keputusan. Bagiku sebagai pembaca, dia ini sial. Udah dikasih hidup bagus jadi karyawan, dipromosiin, tapi akal-akalan pengen jadi pengusaha. Padahal dengan jadi karyawan, hidupnya dia udah termasuk cukup dan makmur. Akhirnya dia nyoba beragam usaha dan bangkrut. Karena tabungan nipis dan gagal melulu, keluarga jadi korban juga.
Buku ini lebih dominan ke pencarian makna hidup, terutama tentang apa sih sukses buat diri kita sendiri. Selain itu, jangan merasa minder kalau punya harapan yang 'mungkin' kecil, tapi kalau kita ngelakuin itu secara konsisten hasilnya bisa cukup besar bagi kehidupan diri sendiri. Misalnya sesederhana memperbaiki postur tubuh, belajar mobil, jalan selangkah dari kasur karena udah mengurung diri terlalu lama di kamar, dll. Jadi, yang bisa aku dapetin dari buku ini adalah setiap orang masih punya kesempatannya buat berubah meskipun dengan cara yang mereka anggap itu kecil. Daaann coba buat menghargai hal-hal sederhana di hidup, misalnya udara yang sejuk, bunga yang cantik, musik yang bagus, intinya begitu-begitu yang bisa jadi selama ini dianggap sepele.
Sebenernya ini bukan review buku, tapi lebih ke rangkuman dari buku yang udah kubaca. Jadi, tolong jangan kecewa kalau reviewnya nggak sesuai harapan. Postingan ini dibuat cuma buat merangkum apa buku yang udah pernah kubaca dan isinya apa, gitu ajah.
